STIE CKU mengikuti HUT ke-76 Republik Indonesia (RI), dengan perincian peserta 200 warga Kampung Jawi Jatisari, Gunung Pati beserta mahasiswa dan juga ketua STIE CKU yaitu Drs. Dirgo Wahyono, M.Si mengikuti upacara 17 agustus 2021 berbahasa Jawa. Selain petugas upacara yang serba berbahasa krama inggil, para peserta pun mengenakan pakaian adat Jawa untuk menyemarakkan HUT.

Upacara bertema adat Jawa yang digelar di lapangan depan pendopo itu memang tergolong unik. Pasalnya, rangkaian upacara yang biasanya dilangsungkan dengan bahasa Indonesia dan berseragam merah putih diubah menyesuaikan adat Jawa.

Siswanto, pengusung Kampung Tematik Kampung Jawi sengaja mengusulkan kegiatan tersebut sebagai bentuk “nguri-uri budoyo Jowo” melestarikan kebudayaan Jawa sejak 2017 sampai sekarang 2021. “Dengan begini, identitas kita sebagai bangsa Indonesia sekaligus orang Jawa jadi terasa,” ungkapnya.

Terlebih selama pandemi Covid-19, rasanya upacara sangat jarang dilakukan. Sehingga antusiasme warga setempat semakin memuncak lantaran kerinduan pada kegiatan seremoni tersebut. Bahkan kali ini tak hanya warga RW 01 saja yang masuk dalam barisan peserta. Warga Sukorejo dari RW lainnya ikut hadir mengikuti upacara.

Saat koran ini tiba pukul 07.30, upacara dimulai. Pasukan dalam barisan diberi komando dengan bahasa Jawa. Master of Ceremocy (MC) pun sama berbahasa Jawa hingga rentetan acara di dalamnya. Di sayap kanan barisan berisi bapak-bapak. Sedangkan sebelah kiri ibu-ibu serta mahasiswa. Lalu di ujung terdapat sekelompok anak-anak yang turut hadir berbaris rapi. Semuanya mengenakan batik, blangkon, kebaya. Beberapa anak memakai seragam sekolah.

“Siapapun boleh ikut, anak muda, orang tua, kami tidak membatasi. Pakaiannya pun sebenarnya tidak kami tentukan, yang penting sopan, mau baris rapi, itu sudah bagus,” tuturnya.

Lebih lanjut, persiapan upacara semacam ini tak main-main. Petugas bendera bahkan mengaku berlatih selama tiga hari. Terakhir sebelum hari H mereka berlatih hingga pukul 01.00 dini hari. Fisti, Haris, dan Yayan, merasa bangga dapat menjadi bagian dari petugas yang mengibarkan bendera. “Seneng sih, tapi nervous dan deg-degan karena udah lama nggak jadi petugas upacara. Jadi kami latihannya bener-bener,” ungkap Fisti pembawa bendera.

Dikatakan perayaan yang digelar biasanya diramaikan dengan jalan santai, perlombaan, dst. Namun situasi pandemi melarang warga menggelar perayaan yang terlalu meriah. Oleh karenanya mereka hanya mengadakan makan pagi dan minum jamu bersama seusai upacara. “Puji syukur 2021 kami merayakan HUT dengan berpakaian jawa dengan bahasa jawa. Tapi saat ini hanya upacara saja, saya kira sudah cukup memupuk rasa cinta Indonesia dan nasionalisme warga setempat. Sembari mengingat jasa para pahlawan,”.

Leave a Comment